Tampilkan postingan dengan label Lowongan Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lowongan Kerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

Mencapai potensi hidup yang maksimal

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.

Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :

* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.

* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri

* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.

* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.

* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.


* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !



( Dikutip dari : Mencapai potensi hidup yang maksimal by Joel Osteen)

Selasa, 31 Januari 2012

MBAH MARIDJAN SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

 

Memposting artikel kiriman dari seorang teman yang bernama ABDUL AZIZ NURAHMAN, S.S. 

Dua hari menjelang hari kelahiran Sumpah Pemuda, aktivitas Gunung Merapi yang berada di batas wilayah DI. Yogyakarta, Jawa Tengah mencapai titik klimaks. Masyarakat yang tinggal di lereng gunung terpaksa angkat kaki untuk mencari perlindungan dari amukan abu panas yang menghujani area tersebut. Sejumlah tim SAR telah bekerja maksimal dalam upaya menekan angka korban yang mungkin berjatuhan. 

Gunung yang juga meletus tahun 2004 silam ini mampu menyita perhatian publik hampir seluruh Indonesia. Betapa tidak, letusan yang memuntahkan lava dan menyemburkan awan panas atau wedus gembel tersebut selalu meminta korban jiwa. Dalam kejadian ini, hanya sedikit yang menjadi korban. Walaupun kerugian material akibat letusan gunung tersebut, tidak bisa dianggap kecil.

Akan tetapi, perhatian masyarakat tidak berhenti di situ saja, ada dimensi lain yang mampu menggerakkan opini massa dalam “melibatkan diri” terhadap peristiwa yang akan menjadi catatan sejarah ini, yaitu kabar duka tentang wafatnya sang juru kunci merapi, Mbah Maridjan. Beliau dinyatakan wafat setelah dilakukan pengecekan secara fisik dan melalui tes DNA. Hal itu dilakukan mengingat ada lima mayat ditemukan di tempat Mbah Maridjan bertempat tinggal, yang kesemuanya diselimuti abu vulkanik dan sulit dikenali.
Juru kunci yang mempunyai nama lain Mas Panewu Surakso Hargo itu meninggal dengan keadaan bersujud di dalam rumahnya. Status sebagai juru kunci Gunung Merapi yang beliau sandang, merupakan hadiah berharga dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1982 setelah 12 tahun menjadi wakil kuncen (sebutan lain dari juru kunci). Beliau diamanatkan oleh Sultan agar menjaga keseimbangan Gunung Merapi agar tetap terpelihara dengan baik.

Dalam tradisi masyarakat Yogyakarta, Gunung Merapi memiliki semacam kekuatan magis yang menyatu dalam garis lurus dengan Tugu Kraton Yogyakarta dan Laut Selatan. Garis imajiner yang menghubungkan ketiga titik penting itu merupakan landasan filosofis raja-raja Yogyakarta dalam berhubungan dengan rakyat dan Tuhan. Sementara Keraton Yogyakarta pas berada di tengah garis lurus itu. Inilah pusat sosioreligi politik Yogyakarta sejak kerajaan Mataram Islam pecah.
Sementara tugu yang berada di utara keraton dan tegak lurus dengan Gunung Merapi adalah simbol spiritualitas raja-raja Yogyakarta dalam menjalankan pemerintahan berkeadilan profetik. Itulah rahasia kenapa Mbah Maridjan diangkat menjadi kuncen Merapi oleh Sri Sultan.
Beliau menjadi populer sejak tahun 2006 lalu. Sulit menemukan sosok yang sama teguhnya dengan beliau. Di saat semua orang ketakutan menyaksikan amukan Gunung Merapi dan bergegas mencari tempat perlindungan, beliau tatap tak bergeming sedikit pun. Beliau tidak mau turun dari lereng Merapi, tempat beliau berada. Aktivitas Gunung Merapi yang selalu meminta korban, tidak membuat Mbah yang pernah menjadi bintang iklan salah satu minuman energi tersebut berubah pendirian. Keselamatan boleh terancam, tetapi sebuah prinsip tidak boleh goyah. Kontroversial memang!
Banyak kalangan yang mewanti-wanti agar Mbah Maridjan turun dari lereng, tetapi beliau tidak mengindahkan sedikit pun. Termasuk Sultan Hamengkubuwono X juga memerintahkan demikian. Tapi, apa dikata, beliau lebih patuh terhadap Sultan Hamengkubuwono IX yang telah memberikan tanggung jawab kepadanya. Keteguhan memegang prinsip dari sosok kuncen Merapi tak bisa ditukar dengan material. Walaupun harus mempertaruhkan nyawa sekalipun. Dan itu adalah harga mati yang harus dipertaruhkan, bukan sebuah arogansi individual. Akibat dari keteguhan itulah, Mbah Maridjan wafat dalam keadaan bersujud. Itu merupakan tanda kemuliaan dari seseorang yang patuh menjaga amanah.
Membaca Dua Peristiwa Penting
Meski opini publik tersita kuat oleh Gunung Merapi dan juru kuncinya, ada momen penting yang tak boleh dilupakan, yaitu peringatan hari kelahiran Sumpah Pemuda. Spirit Sumpah Pemuda sangat penting dijadikan acuan dalam melihat problem bangsa yang multikrisis. Prinsip Sumpah Pemuda tadi, jauh lebih penting dari apa yang Mbah Maridjan lakukan. Karena ini menyangkut nama dan identitas negara bukan daerah khusus. Namun, peristiwa ini akan dicatat oleh sejarah karena Mbah Maridjan lahir setahun sebelum sumpah pemuda digelar.
Akan tetapi, ada yang terlupakan ketika peringatan hari Sumpah Pemuda dilangsungkan. Berbagai kalangan merayakan hanya sebatas seremonial formal, bahwa setiap 28 Oktober adalah hari bersejarah dalam catatan perjalanan bangsa Indonesia ini yang perlu dikenang dengan sebuah acara peringatan.
Di saat ini pula, semangat pemuda yang tangguh dan berjiwa nasionalis, perlu terus “difatwakan”, lewat sebuah ritual tahunan bernama peringatan Sumpah Pemuda. Meski di sisi lain, mental-mental pemuda masa kini dan hampir di seluruh wilayah bangsa ini, terus ditelanjangi habis-habisan oleh ulah-ulah tak etis kaum elite senayan.
Tak jarang pula, di hari ini juga, arogansi yang selama ini mengakar seolah tercerabut dari sejumlah elite yang ikut andil dalam euforia sumpah pemuda tadi. Walaupun terkadang ini hanya sebatas apresiasi semu yang terlampau melembaga. Jargon-jargon spirit kepemudaan, nyaring didengungkan dan diteriakkan, tapi nihil dalam kenyataan.
Fenomena mengelukan semacam ini telah menjadi pemandangan umum yang menarik dan memiliki daya pikat tersendiri sehingga banyak yang tidak sadar atau mungkin sadar meski tidak mau menyadari, bahwa hal itu tidak bernilai apa-apa selain formalitas tanpa substansi yang benar-benar menyentuh hati pemuda.
Parahnya lagi, dosa sejarah semacam itu tak hanya dilakukan kaum elite. Tak jarang kita lihat pemuda-pemuda dewasa ini tak lagi membawa semangat sumpah yang mampu mewarnai cakrawala kemajuan bangsa ini ke depan sebagaimana pemuda tahun 1928 silam. Peristiwa itu telah berlalu. Tetapi, tidakkah kita mampu menjaga ruh dari sumpah pemuda sebagai bukti dari konsistensi dan semangat dalam menjalin hubungan yang damai, rukun dan penuh keadilan di atas aras kultur yang multietnis ini?
Seharusnya, prinsip garis imajiner seperti keyakinan masyarakat Yogyakarta tadi, perlu dimiliki oleh bangsa ini secara substansial. Dalam artian, elite negara-pemuda-rakyat harus berada pada sumbu yang sama untuk kemudian dijaga keseimbangannya secara berkeadilan sehingga kesejahteraan benar-benar bisa dirasakan oleh rakyat. Tiga pilar pokok ala falsafah Kraton Yogyakarta tersebut, tak lain merupakan konotasi dari ruh dan makna sumpah pemuda. Itu tidak bisa tercapai jika komitmen menjaga amanah diabaikan begitu saja.
Kini, Mbah Maridjan telah wafat dan Sumpah Pemuda tinggal sejarah. Tak ada lain yang harus dilakukan oleh pemuda atau bahkan pemimpin hari ini kecuali menancapkan spirit dan perinsip ke dalam bingkai komitmen yang amanah. Komitmen Mbah Maridjan perlu kita tiru dan spirit Sumpah Pemuda harus selalu dipegang. Di sinilah kunci yang dapat mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan. Selamat jalan Mbah! Doaku menyertaimu!

Sabtu, 28 Januari 2012

YANG PENTING HALAL

Suasana mendung, tapi asik buat hunting foto. Kali ini saya menuju danau RIA-RIO mungkin banyak orang yang belum tahu tentang danau ataupun keberadaan danau ini. Just info Danau RIA-RIO terletak di Jakarta Timur tepat di diantara Kampung Pedongkelan dan Kompleks Pulo Mas. Mancing Mania …. Kata itu terucap ketika saya melihat di sekitar danau ada yang sedang memancing. Tanya-tanya  sedikit ah…. Wih ternyata dari beberapa Pemancing,  Profesi itu dijadikan sebagai sumber mata pencaharian. Katanya yang melekat dalam hati adalah “YANG PENTING HALAL” (kata salah satu si pemancing) dasyat kan teman-teman dari pada berpenghasilan besar tetapi tidak halal lebih baik berpenghasilan minim tapi halal.
Mudah-mudahan teman-temanku si pemancing dapat rizky yang melimpah dan selalu diberkahi oleh Allah SWT. Salam Semangat Selalu …..

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons